Budidaya Gurame Menguntungkan

Semua segmen budidaya gurame menguntungkan. Mulai dari segmen pemijahan, segmen penetasan telur, pendederan hingga pembesaran ikan konsumsi. Kuncinya terletak pada kemampuan menjaga kesehatan ikan dan mampu mengatur komposisi pakan sehingga tumbuh kembangnya optimal. Tak ketinggalan juga dengan kualitas benih-benih gurame yang dipelihara. Benih-benih berkualitas dihasilkan dari indukan yang berkualitas juga. Seperti yang dilakoni oleh para peternak gurame di Purwokerto yang secara periodik mendatangkan gurame soang dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat.

Peternak gurame sadar, bila memakai indukan gurame yang itu-itu terus dan yang berasal dari satu keturunan akan menghasilkan anakan yang berkualitas rendah. Misalnya saja, benih mudah terserang penyakit, pertumbuhan lambat, banyak yang cacat dan lebih parahnya telur-telur yang dihasilkan sulit menetas. Supaya terhindar dari kasus seperti ini perlu didatangkan indukan gurame yang berasal dari luar daerah. Salah satunya berasal dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dengan melakukan perkawinan yang asal indukanny berbeda asal daerahnya akan menghasilkan keturunan dengan tingkat keanekargaman genetika tinggi. Pemilihan indukan yang unggul di masing-masing daerah berpeluang menghasilkan anakan-anakan yang berkualitas tinggi. Dengan benih-benih yang berkualitas tinggi, sudah tentu budidaya gurame menguntungkan para peternak itu sendiri. Pembesaran benih lebih cepat dan lebih singkat waktunya sehingga keuntungan usahanya pun lebih tinggi.

Gurame soang sudah dikenal sebagai gurame pedaging. Produktivitasnya tinggi, rasa daging digemari oleh masyarakat luas. Tidak mengherankan, kalau di jaman colonial Belanda dulu, gurame ini digemari orang-orang Eropa dan melarang masyarakat pribumi menyantapnya. Terlebih pada saat itu, untuk memperoleh gurame soang harus berburu di rawa-rawa. Jumlahnya masih sedikit.


Budidaya gurame menguntungkan bagi para peternak dan mereka yang menekuni bisnis kuliner. Ikan gurame bisa diolah menjadi berbagai masakan. Mulai dari asam manis pedas, pecak, soto, sup, bistik, bakar, pecel dll. Permintaan gurame selalu meningkat tiap tahun dan produksinya selalu tak mencukupi kebutuhan pasar. Peluang budidaya gurame selalau lebar dan selalu memberi keuntungan yang tinggi. Satu hal yang perlu diperhatikan, kuasai kemampuan budidayanya maka laba besar siap menanti Anda.

Konstruksi Kolam Budidaya Ikan Koi

Konstruksi kolam budidaya ikan koi berpengaruh pada pertumbuhan dan bentuk ikan. Idealnya, koi memerlukan kolam yang cukup luas sehingga pergerakannya leluasa. Dengan pergerakan yang leluasa ini, pertumbuhannya akan lebih cepat dan optimal. Namun, kolam yang terlalu luas juga tidak bagus karena akan membuat koi-koi terlalu banyak menguras energi. Terutama saat mereka mencari makan yang harus naik turun ke permukaan air.

Kolam yang terlalu luas bisa mengakibatkan pertumbuhan koi menjadi ramping. Sementara, bentuk koi yang diinginkan yaitu berbentuk membulat seperti torpedo. Pertumbuhan sirip ekor dan sirip dada juga akan lebih membesar karena bagian tersebut banyak digunakan untuk bergerak. Bagian sirip dada boleh besar dan lebar, tapi sirip ekor tetap diupayakan tetap kecil. Sedangkan kolam yang kecil atau sempit akan mengakibatkan pertumbuhan badan ikan koi membengkok.

Konstruksi kolam budidaya ikan koi
Penggalian, pemasangan instalasi, pembuatan pondasi dan pengisian air menjadi dasar-dasar langkah pertama pembuatan kolam koi. Desain kolam itu sendiri bergantung pada kestersediaan lahan yang ada. Bila lahan yang tersedia cukup luas, bentuk kolam bisa disesuaikan sedemikian rupa supaya bisa menyatu dengan taman. Namun, bila lahan yang tersedia sempit, bentuk kolam yang sesuai hanya berupa persegi panjang atau bulat.

Bagian dasar kolam yang dibuat memang didasarkan pada keadaan tanahnya. Semakin stabil struktur tanah semakin baik kondisi dasar kolam yang akan dibuat. Bagian dasar yang telah dibuat dengan kuat, tinggal dipasang pembatas pinggir yang terbuat dari beton dengan ketebalan 30 cm. Langkah terakhir dari pembuatan konstruksi kolam yaitu pengecatan supaya pertumbuhan lumut terbatas, menghilangkan bau semen dan pemilihan warna cat yang bisa membuat warna ikan tampil kontras.

Luasan ideal konstruksi kolam budidaya ikan koi
Ukuran luas kolam akan berpengaruh pada pola tingkah laku ikan. Para hobiis biasanya menerapkan lebar kolam dengan patokan 5 kali panjang badan, sedangkan panjangnya 7 kali panjang badan. Contoh perhitungan, panjang ikan 50 cm, berarti lebar kolam 2,5 m; panjangnya 3,5 m. Untuk ikan-ikan yang berukuran di bawah 30 cm sebaiknya dipakai kolam yang kecil saja, berkedalaman 1-1,5 m. Untuk ikan-ikan yang berukuran di atas 60 cm, digunakan kolam yang berkedalaman 2 m.

Penetrasi sinar matahari
Kolam koi sebaiknya tidak terkena langsung sinar matahari karena bisa berpengaruh pada tingkat kecerahan warnanya. Bila dinding kolam ditumbuhi lumut, itu tidak jadi masalah. Lumut akan bermasalah pada kolam jika pertumbuhannya melayang-layang di air sehingga warna air kolam menjadi hijau. Penyebabnya, kolam menerima sinar matahari yang terlalu banyak. Oleh karena itu, penetrasi sinar matahari yang masuk ke dalam kolam harus benar-benar diatur.

Tingkat kepadatan ikan

Konstruksi kolam budidaya ikan koi yang dibuat harus seimbang dengan jumlah populasi koi yang akan hidup di dalamnya. Dengan jumlah populasi koi yang berimbang akan membuat cukup leluasa ikan-ikan bergerak dan mampu mensuplai oksigen terlarut bagi ikan-ikan koi ini. Luas kolam yang cukup bisa mencegah terjadinya tabrakan atau gesekan antara ikan dengan dinding kolam. Ukuran tingkat kepadatan yang disarankan yaitu kolam seluas 4 meter persegi, berkedalaman 20-30 cm bisa diisi 20 ekor koi, usia 1 tahun, dengan panjang 15 cm. Bila panjang ikan 20 cm, cukup 10 ekor saja. Idealnya, koi berukuran kecil butuh 1/10 kubik air, sedangkan koi besar butuh 10 kubik air/ekor. Dengan standar ukuran tersebut, tinggal dihitung volume kolam yang dibutuhkan atau dimiliki. Contoh perhitungan, ukuran kolam 2,5 m x 3,5 m x 1,5 m bervolumme 13 kubik atau 13 ton bisa menampung ikan koi sejumlah 13 ekor yang berukuran besar-besar.

Sistem Filterisasi Budidaya Ikan Koi

Ada dua sistem filterisasi budidaya ikan koi yang bisa diterapkan, yaitu sistem vortex dan sistem biofilter. Pada prinsipnya, filter dibuat untuk tujuan membuang zat atau bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan ikan. Filter bisa diibaratkan sebagai jantungnya kolam. Volume filter yang mengisi kolam bisa mencapai 30% dari total volume kolam. Hobiis di negara sakura malah banyak yang membuat sampai volume sekitar 50-60% dari total volume kolam.

Semakin besar volume filter yang dibuat semakin baik kualitas air kolam untuk kehidupan ikan-ikan koi. Bagian-bagian filter kolam itu sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu filter mekanik, kimia dan biologi. Bagian filter mekanik berisi media batu apung, batu karang atau filter mat (lembaran serabut). Bagian filter kimia berisi zeolit dan karbon aktif. Filter biologi terdiri dari mikroorganisme bakteri aerobic yang mengurai senyawa nitrogen. Ketiga bagian filter tersebut bekerja secara terpadu dengan urut-urutan mekanik dilanjutkan kimia diteruskan biologi.


Dari ketiga bagian filter tersebut dihasilkan sistem filterisasi budidaya ikan koi, yaitu pressure tabung, vortex, biofilter atau kombinasi dari berbagai sistem. Prinsip utama jelas sebagai penjernih air. Contoh sistem filter yang sudah umum dipakai oleh kalangan hobiis koi yaitu sistem vortex dan sistem biofilter.

Sistem vortex
Arti vortex itu sendiri adalah pusaran air. Sistem ini diperkenalkan oleh Peter Waddington pada tahun 1994 yang memakai prinsip gaya putaran air dan berat kotoran ikan. Adanya gaya sentrifugal akan membuat kotoran terkonsentrasi di dasar kolam. Rancangan sistem filter vortex itu sendiri berupa tabung silinder. Di bagian ujung bawahnya berbentuk kerucut yang diberi saluran pembuangan (bottom drain) untuk membuang kotoran.

Arah masuk pipa dibuat menyamping (tangensial) supaya air kotor dari dasar kolam berputar. Diameter vortex jangan sampai terlalu kecil supaya kotoran langsung terbuang dari kolam. Diameter besar juga akan membuat arus air yang kuat. Kedalaman vortex harus dibuat cukup sehingga air bisa berpindah dari vortex menuju ke filter lain.

Kolam koi itu sendiri sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai vortex besar. Hanya saja, dibutuhkan arus yang kuat untuk bisa memutar air supaya kotoran bisa terkumpul ke tengah kolam. Agar arus air bisa menggiring kotoran, sebaiknya pompa arus ditempatkan lebih tinggi sekitar 40 cm dari dasar kolam. Di area pusaran tersebut, diletakkan pipa penyedot yang akan menyalurkan air menuju vortex.

Dasar kolam sebaiknya dibuat miring. Selisih tinggi pinggir kolam dengan tengah kolam sekitar 20-30 cm supaya semua kotoran bisa terkumpul. Pemakaian alat bantu seperti diffuser atau uni ring bisa memaksa air lebih cepat tersedot ke dalam pipa.

Sistem biofilter

Sistem filterisasi budidaya ikan koi ini bekerja dengan cara memanfaatkan bakteri pengurai yang ada di dalam zeolit, batu apung dan bioball. Biofilter bisa diletakkan sejajar atau di atas kolam. Setiap penempatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penempatan biofilter yang sejajar akan membuat penggunaan pompa lebih irit sehingga pompa ini bisa dimanfaatkan untuk membuat arus kolam. Kekurangannya, kolam tidak bisa difilter jika air kolam menyusut karena media filter tak bisa terendam. Penempatan biofilter di atas tidak terpengaruh dengan susutnya air kolam karena air kolam dipompa untuk terus-menerus masuk ke dalam sistem biofilter sehingga media tetap terendam air.