Mengenal Kanker Payudara

Sampai hari ini, kanker payudara masih sulit diturunkan angka kejangkitannya. Hampir 2-3 wanita dari setiap 100 populasi kedapatan mengidap penyakit kanker payudara. Tergantung pada kecermatan mengamati gejala awal sejak dini dan kemampuan mendeteksi  penyakit ini, ternyata kanker payudara banyak yang terjadi lebih dini atau sudah berada pada stadium lanjut alias menyebar ke seluruh tubuh. Hal ini yang membuat angka penderita penyakit kanker payudara tetap tinggi di kalangan kaum hawa.


Memang, tak selalu mudah untuk bisa mendeteksi adanya tumor secara klinis oleh seorang ahli. Pemeriksaan mammography yang dilakukan secara rutin dan berkala bisa menemukan adanya kelainan, terutama pada wanita dengan resiko tinggi yang bisa terkena kanker ini. Namun, hampir seperempat dari penderita kanker di negara maju, ternyata mampu menemukan penyakit ini berdasarkan hasil pengamatan dan pemeriksaan sendiri.

Jika dokter mencurigai adanya suatu benjolan di payudara tersebut terindikasi pertumbuhan yang ganas, dokter akan melakukan pemeriksaan histologis. Dengan cara membiopsi, serpihan jaringan tumor di payudara (dengan jarum isap), di bawah mikroskop akan tampak sifat-sifat jaringannya, apakah akan berubah menjadi abnormal, dan arah jenis perubahan seperti apa yang sedang terjadi.

Hindari stress
Penyakit kanker payudara tidak hanya menjangkiti area sekitar payudara saja, tapi berkaitan erat dengan seluruh jaringan tubuh. Banyak faktor yang memicu terjadinya penyakit ini, terutama pada faktor sistem kekebalan tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh seseorang baik, penyebaran penyakit ini bisa dihambat, sehingga prognosis lebih baik. Namun, mekanisme pertahanan tubuh ini bisa runtuh bila seseorang sedang stress.

Penderita yang kurang siap untuk menerima kenyataan penyakitnya, dan pendekatan pihak medis yang minim akan memperburuk perkembangan penyembuhannya. Penghilangan tumor payudara akan membebaskan si penderita dari terbelungganya sistem imunitas. Dengan demikian, si penderita akan menjadi lebih kuat tubuhnya dan bisa mencegah penyebaran kanke ke berbagai jaringan tubuh.

Semakin cepat pengangkatan tumor, semakin baik prognosisnya. Namun, pengangkatan tumor yang bersifata ganas atau kanker ini sering bermasalah. Pengangkatan yang hanya sebagian jaringan saja, sering menimbulkan kekambuhan, dan si penderita terancam terserang kembali yang akhirnya bisa mengakibatkan kematian.

Namun, bila pengangkatan dilakukan secara total (total mastectomy), masalah kehilangan satu payudara akan membawa beban psikologis tersendiri. Si penderita akan merasa dirinya bukanlah sebagai wanita sempurna lagi.

Pihak dokter bedah yang kebanyakan adalah kaum adam, cenderung dianggap kurang memperhatikan sensitifitas wanita. Para dokter pria lebih memilih pengangkatan tumor secara total, walau sebenarnya masih bisa dilakukan hanya pengangkatan sebagian saja.

Tidak harus dioperasi
Begitu hasil pemeriksaan histologis tumor mendeteksi adanya suatu tumor keganasan, keputusan yang diambil tidak serta merta harus pengangkatan tumor. Perlu diperiksa keterlibatan kelenjar getah bening di sekitar area tumor, apakah sudah tercemar kanker atau belum, periksa jenis kankernya, apakah masih dimungkinan dijinakka dengan pemberian obat atau penyinaran saja sehingga tak perlu dioperasi.

Prinsip pengobatan dan penanggulangan payudara itu sebenarnya banyak tergantung pada soal waktu. Semakin dini pengobatan kanker dilakukan, semakin berpeluang besar untuk kesembuhannya.

Pada saat kanker payudara ditemukan, pemeriksaan seluruh tubuh perlu dilakukan untuk melihat adanya kemungkinan penyebaran sel-sel kanker ke kelenjar getah bening, tulang, dan paru-paru.

Bila pengobatan kanker memang tak perlu tindakan operasi, ini bukan berarti si penderita terbebas dengan ancaman kematian walau kanker tak menampakan kekambuhan selama 25 tahun. Kanker masih dimungkinkan menyebar selama masa tersebut dan baru terdeteksi setelah 25 tahun kemudian. Pada saat si penderita terdeteksi terkena kanker payudara, ternyata stadium sudah lanjut alias menyebar ke seluruh tubuh sehingga tak ada lagi tindakan medis yang bisa dilakukan.

Kehidupan si penderita kanker tergantung pada keseimbangan tingkat pertumbuhan sel-sel kanker dengan mekanisme sistem imun tubuhnya. Bila keseimbangannya mampu terjaga, si penderita akan mampu bertahan hidup sampai lama, dan ia bisa saja meninggal karena sebab penyakit lainnya.

Tumor kecil ganas di payudara tanpa disertai pembesaran kelenjar getah bening di sekitarnya (terutama di ketiak), berarti tingkat pertumbuhan kankernya lamban. Ini berarti mekanisme imun tubuhnya bekerja dengan baik, dan perkembangan se-sel kanker mampu dibatasi, dan prognosisnya baik pula.

Namun, bila kelenjar getah bening yang secara histologis telah terkontaminasi kanker, ini menunjukkan sistem kekebalan tubuhnya kurang baik, dan prognosis kurang baik pula.

Rehabilitasi
Rehabilitasi penderita setelah operasi payudara merupakan salah satu bagian dari pengobatan kanker payudara. Terlebih bagi mereka yang telah melakukan operasi pengangkatan payudara total sehingga ada salah satu payudaranya yang sudah hilang. Memberikan solusi dengan memasang prothese payudara bisa membantu pemulihan rasa percaya diri pada wanita tersebut. Pada pihak suami, harus turut serta berperan dalam upaya rehabilitasi ini supaya sang istri akan selalu merasa dibutuhkan dan disayangi.

Mengapa angka risiko kematian akibat kanker payudara masih tetap tinggi?

  1. Pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kanker payudara telah menyebar luas pada saat dinyatakan terdeteksi terkena kanker berdasar pemeriksaan klinis.
  2. Pengangkatan tumor sebagian hanya bekerja secara efektif bila sistem kekebalan tubuh si penderita mampu melawan sel-sel kanker dengan baik.
  3. Meningkatkan upaya pengobatan secara radikal pada kanker tidak otomatis meningkatkan kemampuan bertahan hidup si penderita.
  4. Kesadaran wanita dengan pemeriksaan diri sendiri sejak dini masih belum tersebar luas.
Baca juga